Jumat, Oktober 09, 2009

ONTOLOGI

Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu, bagaimana wujud hakikinya, serta bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia yang berupa berpikir, merasa, dan mengindera yang membuahkan pengetahuan.


Objek telaah Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu, yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu.


Dari pembahasannya memunculkan beberapa pandangan yang dikelompokkan dalam beberapa aliran berpikir, yaitu:


1.
Materialisme;
Aliran yang mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada itu adalah materi. Sesuatu yang ada (yaitu materi) hanya mungkin lahir dari yang ada.


2. Idealisme (Spiritualisme);
Aliran ini menjawab kelemahan dari materialisme, yang mengatakan bahwa hakikat pengada itu justru rohani (spiritual). Rohani adalah dunia ide yang lebih hakiki dibanding materi.


3. Dualisme;
Aliran ini ingin mempersatukan antara materi dan ide, yang berpendapat bahwa hakikat pengada (kenyataan) dalam alam semesta ini terdiri dari dua sumber tersebut, yaitu materi dan rohan


4. Agnotisisme.
Aliran ini merupakan pendapat para filsuf yang mengambil sikap skeptis, yaitu ragu atas setiap jawaban yang mungkin benar dan mungkin pula tidak.

Ontologis, cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

1. Objek Formal

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

2. Metode dalam Ontologi

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

Selengkapnya...

LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Manusia sejak mereka ada di muka bumi dan hidup bermasyarakat sudah memiliki gambaran dan cita-cita yang mereka kejar dalam hidupnya, baik secara individu maupun secara berkelompok, walaupun masih sangat sederhana. Gambaran dan cita-cita tentang kehidupan itu pula yang mendasari adat istiadat suatu suku atau bangsa, norma, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Begitupula pendidikan yang berlangsung disuatu suku atau bangsa tidak bisa terlepas dari gambaran dan cita-cita di atas.

A. Filsafat, Ilmu, dan Ilmu Pendidikan

Filsafat

Filsafat dalam arti sekarang mulai dikenal sejak zaman Yunani kuno. Ahli filsafat waktu itu adalah:

1. Socrates (469-399 SM) mengajarkan bahwa manusia harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan cara berpikir secara dialektis.

2. Plato (427-347 SM) mengatakan kebenaran hanya ada di alam ide yang bisa diselami oleh akal. Pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya.

Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu :

1. Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam ini.

2. Epistemologi ialah filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran dengan rincian:

a. Ada lima unsur pengetahuan :

1) Otoritas yang terdapat dalam ensiklopedi, buku teks yang baik, rumus dan tabel

2) Common Sense yang ada pada adat dan tradisi

3) Intuisi yang berkaitan dengan perasasaan

4) Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengalaman.

5) Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.

b) Ada empat teori kebenaran yaitu:

1) Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsisten dengan kebenaran umum.

2) koresponden, sesuatu akan benar bila ia tepat dengan fakta yang dijelaskan.

3)Fragmatisme, sesuatu dipandang benar bila kebenaran yang lengkap konskuensinya memberi manfaat bagi kehidupan.

4) Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada.

3. Logika ialah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar.

4. Etika ialah filsafat yang menguraikan tentang perilaku manusia. Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk mengembangkan perilaku manusia, antaralain afeksi peserta didik.

Ilmu

Ketika Ilmu baru muncul, baru terlepas dari flsafat sebagai induknya, ilmu masih mempunyai pertautan dengan filsafat. Pada taraf ini ilmu masih menggunakan norma-norma filsafat. Ilmu mengungkapkan penemuan-penemuannya hanya berdasarkan apa adanya di lapangan.

Jujun (1981) dalam bukunya membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang saling berkaitan satu dengan yang lai. Tingkat proses perkembangan yang dimaksud adalah :

1. Tingkat Empiris ialah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih berdiri sendiri-sendiri, baru sedikit bertautan dengan penemuan lain yang sejenis. Wujud ilmunya belum utuh, masing-masing sesuai dengan misi penemuannya karena belum lengkap.

2. Tingkat penjelasan atau teoretis, ialah ilmu yang sudah mengembengkan suatu struktur teoritis. Dengan struktur ini mengintegrasikan ilmu-ilmu empiris itu menjadi suatu pola yang berarti.

Ilmu Pendidikan

Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Pendidikan pun lahir dari induknya yaitu filsafat. Pada zaman nasionalisme pendidikan sebagai ilmu mulai muncul. Zaman ini dikatakan sebagai kebangkitan ilmu pendidikan, sebab komponen-komponen ilmu mulai lengkap..

Dalam perkembangan selanjutnya terjadi perebutan pengaruh dalam dunia pendidikan yaitu antara pembawaan dan lingkungan. Schopenhauer berpendapat bahwa anak manusia sudah dibekali segala sesuatu sejak dilahirkan, aliran ini disebut Nativisme. Aliran ini bertentangan dengan aliran Empirisme yang berpendapat bahwa lingkunganlh yng memegang peranan dalam menentukan maju mundurnya hidup dan kehidupan manusia. Tokohnya ialah Jhon locke yang terkenal dengan teori tabularas. Tabularasa adalah meja yang dilapisi lilin tempat menulis orang-orang Yunani kuno. Pendamai kedua teori itu adalah William Stern yang kemudian diikuti oleh Woodworth dan Marquis , yang menciptakan teori Konvergensi. Teori ini memandang kekuasaan pembawaan dan lingkungan adalah sama dalam perkembangan manusia.Ketiga teori ini masih mewarnai teori-teori pendidikan pada zaman modern.

B. Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan.

Tulisan Zanti Arbi (1988) yang menceritakan tentang maksud filsafat pendidikan sebgai berikut:

1. Menginspirasikan

adalah memberi inspirasi kepad pr pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan.

2. Menganalisis

adalah memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya

3.Mempreskriptipkan

adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan

4. Menginvestigasi

adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.

Beberap aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini adalah:

1. Esensialis

Filsafat pendidikan esensial bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya.Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika.. pengaruh filsafat ini sangat kuat sampai sekarang. Sekolah-sekolah dengan kurikulum dan metode tradisionalnya merupakan perwujudan filsafat pendidikan ini.Tokohnya antara lain adalah Brameld

2. Perenialis

Perenialis tidak jauh berbeda dengan esensial. Kalau kebenaran yang esensial ada pada kebudayaan klasik dengan Great booknya. Maka kebenaran Perenialis ada pada wahyu tuhan. Proses pendidikan mereka sama-sama bersifat tradisional. Filsafat ini muncul abad pertengahan pada zaman keemasan agama katholik-Kristen. Ajaran agama itulah merupakan suatu kebenaran yang patut dipelajari dan tokoh filsafat ini adalah Agustinus dan Thomas Aquino.

3.Progresivis

Lahir di Amerika Serikat.. Progresivis mempunyai jiwa perubahan relativitas, kebenaran dinamik, ilmiah, dan perbuatan nyata.Tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti.

4. Rekonstruksionis!

Merupakan variasi dari progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki(Callahan, 1983).. Aliran yang ekstrim ini berupaya merombak tata susunan masyarakat lama

dan membangun tata susunan hidup yang baru sama sekali melalui lembaga dan proses pendidikan.

5. Eksistensialis

Berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksitensi atau adanya individu

  1. manusia itu sendiri. Manusia adalah bebas, akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan

komitmennya sendiri. (Callahan, 1983). Kebenaran menurut mereka adalah relative bergantung kepada keputusan mereka masing-masing.

C. Filsafat Pendidikan di Indonesia

Bangsa Indonesia memiliki filsafat umum atau filsafat negara adalah Pancasila. Sebagai filsafat negara, Pancasila patut menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi semangat dalam berkarya dalam segala bidang, dan mewarnai segala segi kehidupan dari hari kehari.

Namun, belum ada upaya untuk mengoperasionalkan Pancasila agar mudah diterapkan dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Sementar itu pendidikan di Indonesia belum mempunyai konsep atau teori-teori sendiri yang cocok dengan kondisi, kebiasaan atau budaya Indonesia tentang pengertian pendidikan dan cara-cara mencapai tujuan pendidikan. Sebagian konsep atau teori pendidikan diimpor dari luar negeri sehingga belum tentu valid untuk diterapkan di Indonesia.

D. Upaya mewujudkan Filsafat pendidikan di Indonesia

Untuk dapat membentuk teori pendidikan di Indonesia yang valid, terlebih dahulu dibutuhkan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia yang memadai tentang pengertian pendidikan yang jelas dan berlaku di seluruh tanah air, tujuan pendidikannya, model pendidikannya, dan cara mencapai tujuan yaitu dari tehnik mendidik.

Upaya mendorong pemerintah untuk memberi isyarat akan pentingnya merumuskan filsafat pendidikan dan teori pendidikan yang bercorak Indonesia sudah pernah dilakukan menjelang siding umum MPR (Kompas, 27 Nopember 1992), sebagai suatu sumbangan untuk bahan siding umum itu. Namun GBHN 1993 sebagi produk siding itu tidak mencantumkan perlunya perumusan filsafat dan teori pendidikan itu.

Selengkapnya...